Beberapa waktu yang lalu kami menghadiri sebuah acara yang di inisiasi oleh DILo Medan, dimana mereka mengundang beberapa founder startup di kota Medan untuk melakukan pitching produk mereka di hadapan direktur digital bisnis PT. Telkom Indonesia. Untuk yang belum tahu DILo Medan, ini adalah sebuah "creative camp" yang terdiri dari "co-working space" dan pengembangan minat dan bakat bagi masyarakat umum dalam bidang industri kreatif digital.

Kembali pada topik yang sedang dibahas, pada acara itu memang tidak seluruh startup dari kota Medan hadir, pendidir startup yang hadir adalah kebanyakan merupakan anggota DILo Medan atau peserta pelatihan yang dilakukan oleh DILo medan. Ada sekitar 7 startup yang melakukan pitching, dengan masing-masing produk memiliki waktu sekitar 5 menit. Pada umumnya pitching dilakukan sebuah perusahaan startup untuk mendapatkan dukungan dana dari investor dengan cara meyakinkan bahwa produk mereka layak untuk didanai. Namun kali ini hal ini dilakukan karena direktur Telkom ingin melihat kondisi ekosisitem startup yang ada di kota Medan, dan bagaimana mereka dapat membantu pertumbuhan tersebut.

Ketika bicara ekosistem startup kota Medan, kami telah berkecimpung dalam industri ini lebih dari 5 tahun terakhir, kami masih berusaha mengembangkan bisnis berbasis inovasi ini dengan berbagai ide yang berbeda. Diawal tahun 2012/2013 ketika awal kami terlibat, industri ini masih sangat minim pelaku, informasi, komunitas, dan tempat untuk berbagi informasi juga sangat minim. Industri ini dianggap masih relatif baru, ditambah iklim wirausaha kreatif kota Medan juga tidak sebesar kota-kota seperti Jakarta, Bandung, atau Jogyakarta. Seiring waktu situasi ini mulai berubah, semakin banyak acara-acara, coworking space, bahkan produk-produk yang bermunculan.

Sayangnya pertumbuhan ini tidak secepat yang terjadi di kota-kota lainnya, bahkan beberapa kota di pulau Sumatera mengalami pertumbuhan yang lebih baik dibanding kota Medan. Berikut adalah laporan rangking persaingan industri digital provinsi di Indonesia:

Ekosistem startup Medan

Bandingkan dengan data pendapatan asli daerah (PAD) Sumatera dengan provinsi lain di Indonesia berikut ini :

persaingan industri digital Sumatera Utara

Dimana posisi Sumatera Utara berada pada peringkat 7, namun dalam persaingan industri digital Sumatera utara berada pada peringkat ke 12. Kondisi ekosistem startup kota Medan atau Sumatera utara yang tidak optimal disebabkan banyak faktor. Dalam pengamatan kami rendahnya inovasi bisnis menjadi konsetrasi utama yang harus diselesaikan, inovasi bisnis tidak menjadi materi pendidikan yang diberikan secara maksimal kepada generasi muda sedini mungkin. Dalam perjalanan saya mengembangkan startup, banyak anak-anak muda yang memiliki ide startup dan semangat mengembangkannya.

Startup Medan

Sayangnya pemahaman tentang bisnis inovasi, mental wirausaha, reaksi lingkungan terhadap inovasi, riset, dan kegagalan menjadi penghambat utama yang dihadapi. Dukungan berbagai pihak guna memberikan apresiasi terhadap inovasi, ilmu yang aktual terkait teknologi dan inovasi, dukungan pemerintah dan orang-orang sekitar perlu untuk digalakkan. Pengalaman saya menunjukkan pengetahuan teori tidak cukup untuk membuat sebuah bisnis yang berkelanjutan, namun konsistensi dan rangkaian eksperimen yang dilakukan secara terarah dan maksimal menjadi faktor penentu utama dalam keberhasilan bisnis tersebut.

Dengan adanya business pitching seperti ini tentu akan mengecewakan bagi orang-orang yang berharap akan segera mendapatkan "investasi" sebagai balasannya. Namun untuk pendidir startup yang merasa bahwa pitching seperti ini adalah bagian dari latihan yang perlu dilakukan dan sarana guna meningkatkan jaringan dan bertukar pengetahuan akan memberikan dampak yang lebih cerah bagi perkembangan ekosistem kedepannya. Mudah-mudahan akan semakin banyak acara seperti ini, dan dihadiri oleh siapapun atas dasar mencari pengetahuan dan berbagi, bukan hanya menunggu investasi.